Fatamorgana Keamanan
Banyak orang hari ini terjangkit ilusi seperti anak Nabi Nuh yang tersesat, yang dengan bodohnya berlari ke puncak gunung dengan keyakinan bahwa ia akan “aman” dari banjir.

(Sumber Gambar: MuhammadSite)
“Putranya menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat melindungiku dari air.” Nuh berkata, “Pada hari ini tidak ada yang terlindungi dari ketetapan Allah selain orang yang diberi rahmat oleh-Nya!” Dan gelombang pun datang memisahkan keduanya, lalu ia termasuk golongan yang ditenggelamkan.” —(QS. Hud: 43)
Bayangkan sebuah gedung apartemen.
Keluarga-keluarga tinggal di unit-unit yang tertata rapi, anak-anak berlarian di lorong-lorong, aroma masakan rumahan mengalir melalui ventilasi. Orang-orang pergi bekerja, pulang ke rumah, menunaikan salat lima waktu, menonton berita, dan tenggelam dalam doom scrolling di ponsel mereka.
Hidup, dengan segala disfungsi yang samar dan kenormalan yang rapuh, terus berjalan. Para orang tua memandang kehidupan kecil mereka dan berpikir: ini kehidupan yang baik. Kehidupan yang stabil.
Namun, ada sesuatu yang tidak beres dalam gambaran yang tampak sempurna ini.
Di sebelah, hanya terpisah satu dinding, ada seorang laki-laki.
Pada malam hari, mereka mendengar suara-suara itu—gesekan, benturan, jeritan yang menembus pipa dan beton, seakan meretakkan dunia itu sendiri. Anak-anak pun mendengarnya. Mereka bertanya. Para orang tua menjawab bahwa itu bukan apa-apa, hanya situasi buruk di sebelah yang sebaiknya diabaikan atau cukup didoakan: “kita aman di sini”, “pengelola akan melindungi kita”, “ini bukan urusan kita”, “dia tidak bisa menyakiti kita”.
Sesekali, manajemen gedung mengirimkan pemberitahuan:
Tidak ada alasan untuk khawatir. Keamanan Anda adalah prioritas kami. Silakan lanjutkan aktivitas harian Anda. Pasar tersedia dengan baik, kami bangga dengan moto gedung ini, kami menjamin “keamanan dan keselamatan” (amn wa aman).
Dan orang-orang pun melanjutkan hidup mereka.
Mereka merasa cukup dengan pergi ke pasar. Mengirim anak-anak ke sekolah. Pergi ke Mekah dan mengunggah swafoto di depan Ka’bah.
Mereka meyakinkan diri bahwa keamanan adalah kemampuan untuk sekadar makan, minum, beribadah, dan bekerja—mematuhi aturan serta batas-batas unit mereka yang telah ditentukan dengan jelas—meskipun dinding-dinding itu terasa bergetar pada malam hari.
Namun, ada kebenaran yang lebih mengerikan yang menggantung di atas gedung itu.
Mereka mulai menyadari bahwa kontrak sewa yang mengikat mereka ternyata ditulis oleh si pembunuh kapak itu sendiri.
Bahwa dialah yang menyewa para kontraktor untuk dengan cermat mengisolasi setiap unit dari unit lainnya.
Bukan hanya itu, para penghuni juga melihat para pemilik gedung membantu si pembunuh kapak. Mereka membantu membawakan barang-barangnya—paket, kotak-kotak. Mereka menyediakan kapak-kapak yang bersih dan mengilap, diantar dengan efisiensi yang senyap. Kadang-kadang, mereka bahkan mengizinkannya menggunakan apartemen mereka sendiri. Pintu terbuka. Ia masuk. Pintu tertutup. Kekejaman dan kebejatan pun terjadi.
Tak seorang pun berani membicarakan hal ini secara terbuka. Hanya segelintir penghuni yang melakukannya.
Mereka berkumpul dengan suara pelan di tangga darurat dan area parkir. Mereka mengatakan apa yang sebenarnya diketahui semua orang tetapi takut untuk diungkapkan: ini tidak aman. Ini kegilaan. Orang di sebelah itu sedang membunuh orang, dan justru orang-orang yang bertanggung jawab atas keamanan kita yang melindunginya!
Mereka yang mengungkapkan hal yang sudah jelas dilaporkan. Diawasi. Diberi peringatan.
“Kamu menyebabkan kepanikan,” kata mereka.
“Kamu mengganggu stabilitas gedung.”
“Mengapa kamu begitu terobsesi dengan orang di sebelah itu?”
Tak lama, bahasa yang digunakan terhadap mereka yang melihat kenyataan menjadi semakin keras. Mereka bukan lagi “penghuni yang peduli”. Mereka diberi label sebagai ancaman. Ekstremis. Teroris.
Sebagian diusir. Sebagian lainnya menghilang tanpa jejak. Sisanya pun belajar. Para pemilik gedung menyewa para influencer untuk membuat konten yang rapi tentang moto “keamanan” dan “keselamatan” di gedung itu. Para influencer melukiskan gambaran yang bersih dan sempurna tentang gedung tersebut—bahwa jika semua orang hanya patuh kepada pemilik gedung, maka mereka dan anak-anak mereka akan menjalani hidup yang “baik” dan “aman”.
Jangan berbicara tentang si pembunuh kapak, atau tentang mereka yang berusaha menghentikannya, begitu mereka diperingatkan.
“Kamu pengkhianat terhadap perdamaian dan keamanan gedung”, kata mereka.
Dan dengan semua upaya itu, gedung pun kembali ke rutinitasnya yang “tenang”.
Kepada fatamorgana keamanan yang meninabobokan.
Anak-anak kembali pergi ke sekolah. Para orang tua pergi bekerja. Pasar tetap buka. Pemberitahuan untuk mematuhi aturan ketat apartemen terus berdatangan. Para pemilik gedung terus mengirimkan kebutuhan dan kapak-kapak itu.
Namun pada malam hari, di balik dinding, suara-suara itu tetap ada.
Kini, suara-suara itu semakin keras, semakin dekat.
Hingga suatu hari, para penghuni yang memilih obat penenang manis bernama “perdamaian dan keamanan” akhirnya menyadari kebenaran yang sudah jelas—terlambat:
“Kamu tidak mungkin aman hidup di sebelah seorang pembunuh kapak, dilindungi oleh para pendukungnya—orang-orang yang justru kamu percaya untuk menjaga “keamananmu”.
Kamu tidak bisa menormalkan menyaksikan pembantaian setiap hari lalu menyebutnya “stabilitas”.
Kamu tidak bisa menyerahkan keselamatanmu kepada mereka yang justru berkepentingan agar kamu hidup sengsara seperti ternak—sekadar makan, minum, dan berkembang biak.
Ini bukan keamanan. Ini adalah bahaya eksistensial.”
Gedung itu merepresentasikan kondisi dunia Arab hari ini, di mana mereka yang berani menyatakan sesuatu sebagaimana adanya—yang berani mengatakan bahwa ini tidak aman, ini tidak normal—justru diperlakukan sebagai orang buangan, sebagai provokator, sebagai pihak yang layak segera disingkirkan. Entah bagaimana, mereka dianggap sebagai sumber bahaya, bukan si pembunuh kapak di sebelah.
Perumpamaan tentang Gedung ini menunjukkan bahwa hal paling mencengangkan dari era perang genosida ini bukanlah bahwa tujuan-tujuan brutal dari sebuah negara etno-nasionalis ekspansionis sedang dijalankan secara terbuka. Itu sama sekali tidak mengejutkan jika dilihat dari sudut pandang politik maupun sejarah.
Yang justru paling mengerikan adalah bahwa masa ini akan dikenang sebagai masa ketika negara-negara Muslim memilih untuk tunduk kepada para pelaku genosida sebagai modus yang dianggap “lebih aman”, sambil lupa bahwa merekalah yang berikutnya akan menjadi sasaran.
Inilah rumah kartu yang penuh ilusi dari tatanan dunia Sykes-Picot. Sebuah rumah yang terkutuk. Sebuah rumah sakit jiwa.

Negara-negara Arab akan segera menyadari bahwa harga dari meninggalkan Gaza jauh lebih mahal daripada harga untuk berdiri bersamanya.
Di Yordania, tempat saya dibesarkan, salah satu “penghuni” Gedung yang masih memiliki kesadaran seperti ini baru-baru ini dipenjara oleh aparat keamanan hanya karena menyebutkan kenyataan sebagaimana ia melihatnya. Dalam sebuah video yang menjadi viral, ia mengatakan bahwa “sebagai warga Yordania, ancaman eksistensial yang sebenarnya saya rasakan bukan berasal dari Iran, melainkan dari Israel dan proyek Israel Raya yang telah menyatakan bahwa sayalah target berikutnya”. Alih-alih dihargai karena berusaha melindungi kepentingan nasional, ia justru diperlakukan sebagai seorang kriminal.
Demikian pula, otoritas di UEA telah menangkap lebih dari 100 orang hanya karena merekam dan mengunggah serangan rudal dan drone Iran, dalam pengetatan yang semakin meluas terhadap apa pun yang dianggap mengancam citra “keamanan dan stabilitas” negara Teluk tersebut. Alih-alih meninjau kembali kemitraan strategis mereka dengan Israel atau perjanjian normalisasi yang tidak wajar, Abraham Accords, juru bicara yang fasih namun membela kejahatan Zionis, Reem al-Hashimy, tanpa penyesalan menyatakan bahwa “justru sebaliknya, kami semakin memperkuat komitmen kami kepada para sekutu kami”.
Di Qatar, jurnalis-jurnalis terkemuka dipenjara dengan tuduhan serupa. Akademisi Palestina Bilal Nizar Rayan baru-baru ini menulis kritik tajam terhadap negara-negara Teluk sebagai respons atas penangkapan dan pengusiran saudaranya dari Qatar:
“Entitas-entitas Teluk ini sedang menuai apa yang mereka tanam dengan tangan mereka sendiri. Mereka lahir sebagai tambahan yang nyaris tak berarti dalam sejarah, di bawah bayang-bayang perlindungan Inggris. Dan setelah Inggris pergi, Washington mewarisi mereka secara tidak langsung. Hal ini mulai menguras kekayaan dan kapasitas mereka, menjadikan negara-negara ini tidak lebih dari bahan bakar bagi perang-perang tanpa akhir yang tidak membakar siapa pun selain rakyat kita sendiri.
Negara-negara Teluk ini tetap terbius dalam ilusi kekayaan yang berlebihan dan keamanan yang palsu serta rapuh, yang dibangun di atas jasad umat, melalui perang-perang yang dilancarkan terhadap sesama Muslim secara tidak langsung, menenggelamkan rakyat kita dalam konflik yang buahnya hanya menguntungkan proyek Israel Raya, sementara tanah-tanah kita terus dirampas.
Kekayaan yang berlebihan ini, sejak awal, menjadi kutukan utama bagi kehancuran umat lainnya, dimulai dari pendanaan perang Iran–Irak dengan dalih sektarian dan politik, hingga berakhir pada kehancuran total Irak.
Pendarahan ini tidak berhenti di perbatasan Irak. Ia menyebar—memberi makan milisi di Yaman, Libya, Suriah, Sudan, dan Irak—sementara ratusan miliar dolar terus dialirkan ke kas mesin militer Amerika dengan dalih “membeli perlindungan.
Di antara produk paling buruk dari kekayaan ini adalah “saksi-saksi palsu” dan “ulama istana”—mereka yang merendahkan diri untuk memutarbalikkan sejarah dan memalsukan kesadaran, membenarkan ketundukan demi keuntungan para “penjajah baru”, mengikuti jejak buruk para pendahulu mereka yang mengeluarkan fatwa untuk membolehkan pendirian pangkalan militer Amerika, dari mana perang terhadap negeri-negeri Muslim dilancarkan.
Hari ini, kekayaan yang tercela ini justru membakar satu demi satu negeri Muslim, dalam ironi yang pahit. Kemakmuran dan keamanan negara-negara Teluk adalah sebuah kutukan. Ia tidak pernah menjadi alat pembangunan, melainkan senjata penghancur—membuka jalan bagi Israel Raya untuk meraih dominasi dan supremasi yang lebih besar atas tubuh dan sisa-sisa tanah kita.
Hari ini, mereka yang selama ini terbuai oleh keyakinan bahwa uang dapat membeli keamanan akan terbangun untuk menyadari bahwa api yang mereka nyalakan kini mulai menghanguskan mereka sendiri—dan bahwa yang mereka tuai hanyalah kepahitan dari apa yang telah mereka tanam dengan tangan mereka sendiri.
Benarlah firman Allah dalam Al-Qur’an, “Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri””.

(Kartun parodi yang beredar di X: “mazhab fikih Epsteinian yang taat buta kepada penguasa”, yang mengejek kelas “ulama istana” yang memberi legitimasi agama bagi tirani.)
Sementara itu di Gaza, tentara Israel dilaporkan menyiksa seorang bayi berusia satu tahun—membakar salah satu kakinya dengan rokok dan memasukkan paku ke dalam kakinya—untuk menekan ayahnya agar membuat pengakuan dalam interogasi yang penuh penyiksaan.
Di Tepi Barat, pasukan IOF membunuh keluarga Bani Owda saat mereka dalam perjalanan pulang setelah berbelanja pakaian Idul Fitri, ditembak dari jarak dekat di dalam mobil mereka—membunuh sang ibu, Waed Bani Owda, suaminya Ali, serta dua anak mereka yang masih kecil, Othman (7 tahun) dan Mohammed (5 tahun).
Salah satu dari dua saudara yang selamat dari pembantaian itu, Khaled, dilaporkan bertanya kepada seorang tentara: “Apakah kamu mencintai ayah dan ibumu?”
Tentara itu menjawab ya. Khaled lalu bertanya, “kalau begitu, mengapa kamu membunuh ayah dan ibuku?”
Khaled mengatakan bahwa tentara tersebut menjawab pertanyaan itu dengan memukul wajahnya.
Fakta bahwa kelas penguasa membiarkan kejahatan-kejahatan keji seperti ini terjadi setiap hari, bahkan menjadikannya seolah-olah normal, membuat seluruh umat manusia berada dalam bahaya yang sangat nyata, bagi semua orang, bagi seluruh anak-anak kita.

Bayangkan jika anak ini berkulit putih atau Yahudi, dunia akan berhenti.
Dalam dunia yang “normal”, semua negara akan mengangkat senjata dan bersatu untuk melindungi anak kecil yang tak berdaya ini, serta menghentikan kejahatan yang setiap hari dilakukan terhadap anak-anak di Palestina, Iran, Sudan, Yaman, dan Lebanon. Namun, dalam kolusi terang-terangan yang telah menjadi ciri historis mereka, yang lebih mereka utamakan adalah ilusi rapuh mereka sendiri tentang “keamanan”, sambil mengecam upaya bela diri Iran, harga energi, dan penutupan Selat Hormuz.
Negara-negara Arab berlari dengan bodoh ke puncak gunung seperti anak Nabi Nuh yang tersesat, mengira mereka akan “aman” dari banjir, dengan mentalitas hewani “bertahan hidup dulu” (survival first), sambil lupa bahwa banjir itu akan meluluhlantakkan siapa pun yang lari dari kebenaran.
Banjir perhitungan itu akan datang untuk semua orang. Ia bahkan sudah hadir. Lebih baik menghadapinya dengan kepala tegak, daripada dengan sikap takut dan hina.
Banyak komunitas Muslim hari ini juga mewarisi mentalitas “bertahan hidup dulu” ini—menundukkan kepala dan tidak berbuat banyak terhadap ketidakadilan—yang justru bertentangan dengan perintah-perintah Al-Qur’an dan teladan Nabi.
Banyak yang hidup dalam trauma, membawa ingatan sejarah tentang gejolak politik, kolonialisme, perang, atau keruntuhan ekonomi, yang menajamkan naluri bertahan hidup lintas generasi, berakar pada ketakutan paling mendasar bahwa rasa aman dapat lenyap sewaktu-waktu.
Namun, semua itu pada dasarnya hanyalah ketakutan. Konsep “keamanan” yang dibentuk secara kolonial sejak awal adalah sesuatu yang dipinjam, sesuatu yang menipu. “Karpet” yang kini terasa ditarik dari bawah kaki jutaan orang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada. Sebagai Muslim, kita telah mengaburkan pemahaman eksistensial kita sendiri tentang keamanan, mendasarkannya pada lensa dunia yang rapuh dan sementara, bukan pada lensa akhirat yang kokoh dan berakar.
Bisa jadi, justru karena kita terus lari dari “banjir” tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi, dan terus menunda kehormatan serta martabat kepada generasi berikutnya, kita sampai pada titik ini hari ini.
Dengan logika yang keliru ini, dengan berusaha melindungi anak-anak kita dari “bahaya” di dunia ini, justru kita sedang menyiapkan mereka untuk kegagalan di akhirat.
Inilah kebenaran yang tidak populer dan menyakitkan: mempertahankan berhala-berhala palsu berupa rasa aman yang sempit dan semu justru membantu pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa terus berlangsung tanpa henti.
Perhitungan kita sudah kacau.
Sebagian dari kita mengira bahwa “impian terbesar leluhur kita” adalah kursi di Stanford atau Harvard (yang, percayalah, terlalu dilebih-lebihkan), atau menjadi dokter terkenal atau pengacara sukses.
Padahal kenyataannya, mewujudkan impian leluhur kita yang paling sejati adalah memutus siklus kolonialisme spiritual—berhenti takut pada sistem, dan kembali takut hanya kepada Allah.
Memenuhi amanah leluhur dan mandat keimanan berarti menjauh dari kenyamanan dunia, bukan mengejarnya.
Salah satu ciri paling berbahaya dari modernitas Muslim adalah bahwa kita menyerap, tanpa sadar, konsep “keamanan dan keselamatan” itu sendiri, hingga konsep yang kita pegang begitu erat ini justru berisiko menjadi berhala yang kita sembah, yang kita bangun sendiri dalam hati dan pikiran kita.
Sebab bagaimana jika “keamanan” di dunia ini justru menjadi jalan menuju bahaya spiritual di akhirat?
Bagaimana jika konsep “kesuksesan” kita di dunia ini justru sedang menyiapkan jalan menuju kegagalan yang kekal?
Bukankah keamanan sejati bagi seorang Muslim adalah keselamatan dari api neraka, dari kemunafikan, dari menerima dan menormalisasi tirani serta penindasan?
Sejumlah sahabat yang kaya mengorbankan status duniawi mereka setelah memeluk Islam, baik karena meninggalkan harta mereka saat hijrah ke Madinah, maupun karena ditolak oleh keluarga mereka yang berpengaruh. Di antara mereka adalah ʿAbdur Rahman ibn ʿAwf dan Musʿab ibn ʿUmair.
Dengan ukuran zaman kita hari ini, mungkin ada yang akan menyebut mereka “pecundang” (losers). Lalu, apakah para lelaki yang berdiri di Badar dan Uhud, yang paling dekat dengan manusia terbaik, Nabi ﷺ, juga “pecundang”? Jika demikian, siapa yang layak disebut “pemenang”?
Dengan ukuran zaman kita yang telah rusak ini, apakah Nabi Ibrahim dianggap sebagai “pengacau” karena menghancurkan berhala-berhala? Apakah Nabi Musa disebut “bodoh” karena tidak memilih jalan paling aman dan justru menentang Fir’aun, orang yang di istananya ia dibesarkan? Apakah Nabi ‘Isa dianggap “ceroboh” karena tidak mempertahankan status quo bersama para ahli kitab, kaum Farisi, dan kekuasaan Romawi? Menurut ukuran mereka yang memilih diam dan mereka yang selalu menolak perubahan, apakah Nabi kita tercinta ﷺ bertindak “tidak aman” karena menantang kekuasaan paganisme Quraisy yang haus kuasa dan berbasis kesukuan?
Tentu tidak.
Teladan-teladan ini, bersama contoh hidup dari mereka yang hari ini mengorbankan jiwa di Palestina, Iran, Lebanon, Sudan, dan Yaman, mengajarkan bahwa jalan iman tidak pernah dibangun di atas jaminan keamanan dan keselamatan.
Jalan iman menuntut kepercayaan dan penyerahan diri yang radikal, apa pun “biaya”-nya. Karena jika keterikatan duniawi membuatmu kehilangan jiwamu, itu harga yang terlalu mahal.
Para sahabat Nabi ﷺ meninggalkan rumah mereka di Makkah, menyeberangi gurun yang membakar menuju Madinah, bukan karena di sana menanti keamanan, tetapi karena di sana ada kebenaran. Mereka berdiri di Badar dalam keadaan kalah jumlah dan minim persenjataan, mengetahui bahwa kemenangan dan kekalahan sepenuhnya milik Allah, dan itu sudah cukup bagi mereka.
Sebagian memberikan harta mereka, yang lain rumah mereka, dan yang lain lagi darah mereka sendiri. Tidak satu pun dari mereka mengira bahwa dunia ini adalah benteng yang dapat melindungi mereka dari kehilangan.
Mereka memahami, pada tingkat yang dalam dan alami, sesuatu yang begitu sering dan mudah kita lupakan: bahwa menjadikan keamanan dunia sebagai prioritas adalah bangunan rapuh seperti rumah kartu, dan bahwa kemenangan yang sejati dan abadi adalah berdiri di hadapan Allah dengan hati yang bersih, tanpa sekutu bagi-Nya, bebas dari keterikatan pada fatamorgana dunia dan berhala-berhala palsu berupa status atau rasa aman dalam dunia yang fana ini.
Bagi mereka—dan bagi para syuhada yang hari ini mengorbankan anggota tubuh dan nyawa mereka demi kita, agar kehormatan Islam dan keberlangsungan umat tetap terjaga—kesuksesan tidak pernah diukur dari bertahan hidup, tetapi dari iman yang sejati: dari keteguhan hingga jiwa mereka termasuk di antara mereka yang hidup abadi, di antara mereka yang tidak menukar keabadian mereka dengan kenyamanan sementara yang ilusif.
Kita memohon kepada Allah agar tidak menjadi seperti anak Nabi Nuh yang lari ke gunung, melainkan termasuk di antara mereka yang menaiki bahtera keselamatan yang sejati: kapal iman yang profetik, tulus, dan dihidupi.
Berani untuk menggerakkan perlawanan terhadap “rumah sakit jiwa” bernama Gedung Ilusi itu, membakar naskah lama tentang penjinakan syirik, dan menghanguskan keyakinan berbasis dunia yang merusak dan membatasi, bahwa kelangsungan hidup bergantung pada menyenangkan mesin kekuasaan materialistik.
Kita memohon kepada Allah agar tidak menjadi seperti mereka yang mencemooh dan merendahkan kaum tertindas karena berjalan di jejak keberanian Nabi ﷺ, para sahabat, Imam Husain, dan para pendahulu yang saleh.
Kita memohon kepada Allah untuk menata ulang prioritas kita, agar kita menjadi generasi yang membanggakan dalam garis keturunan kita—mereka yang akhirnya mampu melihat rantai-rantai tak kasatmata yang selama ini menahan kita untuk hidup kecil, bermain terlalu aman secara berbahaya, dan menjadi orang-orang yang akhirnya memutus rantai ilusi tersebut.
Sebaliknya, jadikanlah kami mampu mewujudkan iman yang memandang rasa takut sebagai penjara terdalam bagi seorang mukmin.
Bahwa bangkit melawan “pembunuh kapak” dan para penguasa zalim atas umat ini menuntut pengorbanan yang nyata—ia menuntut harga. Menuntut keyakinan mendalam yang selama ini hilang, keyakinan yang membuat para tiran gemetar: bahwa satu orang beriman yang berani, sadar, dan tergerak, memiliki kekuatan untuk melampaui jutaan hati yang lemah yang masih percaya bahwa sistem itu tak terkalahkan.
Karena ketika kita benar-benar meninggalkan rasa takut itu, hakikat terdalam kita akan terbangun: pengetahuan fitri bahwa jiwa manusia tidak pernah diciptakan untuk hidup berlutut. Bahwa satu-satunya keselamatan sejati adalah berdiri tegak, hanya tunduk kepada Sang Pencipta, bukan kepada “makhluk kerdil” zaman ini, tanpa terbelenggu tipu daya mereka dan berhala-berhala palsu dunia yang fana ini.
Kita memohon kepada Allah agar memungkinkan kita benar-benar menapaki jalan keselamatan yang sejati, jalan pengorbanan dan penyerahan diri, bukan jalan yang lebih berbahaya: kenyamanan palsu dan fatamorgana keamanan.“Wahai Nuh! Turunlah dengan keselamatan dan keberkahan dari Kami atasmu…” (QS. Hud: 48)
—Tulisan ini pertama kali diterbitkan pada 25 Maret 2026 di Substack “Sermons at the Court”. Diterjemahkan oleh Lien Iffah Naf’atu Fina dengan bantuan mesin kecerdasan buatan.