Feminin Sakral dalam Islam

Para perempuan Muslim telah menyerahkan suara dan kekuasaan mereka kepada Laki-laki Penguasa selama berabad-abad, mengkhianati pesan sejati Islam.

Mungkin simbol paling kuat dalam Perang Budaya melawan Islam adalah citra perempuan Muslim yang tertindas, patuh, dan lemah lembut. Perempuan Muslim, bersama dengan cara mereka berpakaian, telah digunakan sebagai alat kolonial di Aljazair, Mesir, dan Levant, dan hingga kini terus menjadi sumber obsesi media dan politik, baik di Iran, di Prancis, maupun dalam justifikasi invasi AS ke Afghanistan: demi “menyelamatkan perempuan Muslim”.

Namun, penekanan dan obsesi Islamofobik terhadap pakaian perempuan hanyalah satu dari banyak tantangan yang dihadapi perempuan Muslim. Masalah lain yang lebih mendasar datang dari dalam: pemahaman perempuan Muslim sendiri tentang Islam, peran mereka sebagai perempuan, bahkan makna keberadaan mereka telah tercemar oleh dekade, jika bukan abad, praktik budaya dan interpretasi agama yang keliru, interpretasi yang lebih memilih perempuan tetap diam, tersembunyi, dan sebisa mungkin tak terlihat.

Islam dan perempuan Muslim sebenarnya dapat menawarkan kritik tajam terhadap paksaan neoliberal dan pandangan feminisme absolutis kontemporer. Namun, selama mereka tetap terjebak dalam ranah budaya, hukum, dan rasionalitas belaka, mereka tidak akan melangkah jauh.

Kita sering berbicara tentang teladan perempuan dalam Islam, tetapi apakah kita benar-benar memahami makna dari meneladani mereka? Apa kerja internal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pengabar Kebenaran yang kuat serta pencari Kebaikan dan Keindahan yang sejati? Transformasi spiritual adalah perjalanan yang berat, dan seseorang harus siap menghancurkan berhala dalam dirinya—ego, norma budaya, ekspektasi keluarga, atau status quo—untuk melangkah di jalan yang indah namun penuh tantangan ini.

Jawabannya ada pada Hajar, yang teladannya menjadi dasar pelaksanaan ibadah haji. Ia berdiri sebagai simbol kesabaran dan keteguhan, digerakkan oleh iman dan cinta, di tengah kondisi paling keras.

Jawabannya ada pada Khadijah, seorang pebisnis yang tangguh, yang mempercayai Muhammad dan mendukungnya ketika tak ada orang lain yang mau, meski dengan risiko besar terhadap kekayaan, status, dan kesehatannya.

Lihatlah Fatimah al-Zahra, putri Nabi, yang menjadi jangkar spiritual bagi laki-laki dan perempuan, sumber cahaya, kebijaksanaan, dan rahmat kenabian.

Ada Aisyah, perempuan paling berilmu, yang bisa dikatakan sebagai pendiri ilmu hadis, yang mengoreksi riwayat-riwayat keliru yang merendahkan perempuan tak lama setelah wafatnya Nabi.

Ada pula Zainab, yang keluarganya dibantai dalam Pertempuran Karbala oleh Bani Umayyah, namun tetap berdiri menghadapi musuhnya di istana Yazid dan menyampaikan salah satu pidato protes paling dahsyat dalam sejarah manusia.

Bayangkan jika Zainab tunduk pada status quo yang diberlakukan terhadap perempuan Muslim hari ini. Bayangkan jika ia memilih untuk pasif, patuh, dan diam, atau jika ia berkata, “Ya sudahlah, dia penguasa, dia punya otoritas dan pasti lebih tahu”.

Diamnya Zainab akan mengubah jalannya sejarah menjadi lebih buruk. Tak akan ada teladan dalam menghadapi tirani, tak ada yang bersuara atas pembantaian keji terhadap saudaranya, Husain, dan anggota keluarganya yang lain, termasuk putranya dan keponakannya yang masih bayi.

Hingga hari ini, Islam tidak memiliki otoritas pusat seperti Kepausan dalam Katolik atau Negara Israel dalam Yudaisme. Otoritas dalam Islam sangat terdesentralisasi. Perempuan, terutama perempuan Muslim, harus menggali keberanian Zainabian mereka untuk menghadirkan dunia baru, dunia dengan otoritas yang adil dalam Islam, dunia keseimbangan, dunia Rahmah.

Banyak ulama telah mencatat hubungan antara kata Rahm, yang berarti rahim, dan Rahmah, yang berarti kasih sayang. Ada hubungan sakral antara perempuan dan keilahian bagi mereka yang mau merenung. Jika seorang perempuan tidak selaras dengan ini, ketidakseimbangannya sering kali muncul dalam bentuk masalah hormon, perubahan suasana hati, penyakit autoimun, insomnia, dan kemarahan yang tak terkontrol. Namun, ketika perempuan selaras dengan alam, dengan kedamaian, dengan dirinya sendiri, dan suara dalam dirinya, yang kesemuanya menuntun perempuan ini untuk menjadi pendamping spiritual serta sumber kasih sayang bagi seluruh umat manusia, saat itulah penyembuhan dimulai. Saat itulah tujuan besarnya sebagai wadah bagi yang Ilahi mulai bersinar dan menerangi dunia.

Dalam khutbah perpisahannya, Nabi Muhammad menggambarkan perempuan sebagai botol kaca dengan mengatakan “رفقا بالقوارير” (perlakukanlah botol-botol kaca dengan lembut). Banyak yang menafsirkan ini hanya sebagai perintah bagi laki-laki untuk bersikap lembut, baik, dan penuh kasih terhadap perempuan karena mereka berharga dan sensitif. Namun, pemahaman ini juga mengukuhkan gagasan bahwa perempuan itu rapuh dan mudah pecah, sehingga dianggap lemah. Padahal, yang sering diabaikan adalah bahwa perempuan dalam hadis ini juga dapat dipahami sebagai wadah kebijaksanaan, penampung cahaya, atau “air” spiritual.

Tradisi spiritual lain juga mengakui hal ini. Tao secara konsisten digambarkan sebagai “ibu”, “perawan”, dan “rahim” penciptaan. Maryam dalam Injil disebut sebagai wadah cahaya Ilahi. Banyak karya tentang energi feminin dan mistisisme perempuan terus bermunculan di berbagai tradisi spiritual dan keagamaan. Terlepas dari latar belakangnya, para transendentalis New Age (era baru) di zaman kita semakin menyadari perlunya dunia yang sepenuhnya pulih, di mana Maskulinitas dan Feminitas akhirnya berada dalam harmoni.

Jika dunia baru sedang ditempa kembali, maka perempuan Muslim harus meredam kebisingan dan menggali kekuatan Rahm dalam diri mereka untuk menemukan Rahman dengan iman dan keberanian, demi menghadirkan dunia baru yang penuh Kasih Sayang, Keadilan, Kedamaian, dan Keindahan.

—Tulisan ini pertama kali diterbitkan pada 19 April 2022 di Substack “Sermons at the Court”. Diterjemahkan oleh Lien Iffah Naf’atu Fina dengan bantuan mesin kecerdasan buatan.

Farah El-Sharif

Peneliti dan sejarawan pemikiran Islam modern dan kontemporer; PhD dari Departemen Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard, dengan fokus penelitian pada kesarjanaan Islam di Afrika Barat abad ke-19; MA dalam Studi Islam dari Graduate Theological Union, Berkeley dengan… More »
Back to top button