Nabi yang Hidup

Muslim hari ini seakan kehilangan perahu penyelamat dan puas dengan Nabi sebagai realitas yang jauh dan tidak dapat diakses, padahal hubungan yang hidup itu seharusnya tidak pernah pudar.

Hampir setiap Muslim tahu kisah ini: ketika Nabi Muhammad wafat pada suatu hari bulan Juni yang terik di Madinah pada tahun 632 Masehi, keterkejutan dan duka mendalam yang menyelimuti komunitas yang dicintainya begitu terasa. Menyaksikan banyak orang meratap dan menangis, khalifah pertama dan sahabat terdekatnya, Abu Bakar, membuat pernyataan yang menggetarkan penduduk Madinah: “Barang siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Namun, barang siapa yang menyembah Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati”. Allah Yang Maha Perkasa berfirman: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian akan berbalik ke belakang?” (QS. Ali Imran: 144).

Sejak kata-kata itu diucapkan, seolah-olah umat Islam terus terjebak dalam keterkejutan atas wafatnya Nabi secara fisik. Perkataan Abu Bakar begitu lantang dan memang diperlukan saat itu untuk mencegah fitnah besar dalam komunitas Muslim. Islam menekankan tauhid sebagai prinsip mutlak dan tidak dapat digoyahkan, dan kata-kata tersebut disampaikan untuk menjaga stabilitas iman umat Islam. Namun, ungkapan “Muhammad telah wafat”, meskipun tidak disengaja, tampaknya telah mendorong munculnya bentuk monoteisme modern yang kaku, yang didasarkan pada asumsi keliru bahwa Nabi Muhammad telah wafat secara permanen, seperti manusia biasa lainnya. Ketidaktahuan umat Muslim modern tentang implikasi dari wafatnya Nabi membawa konsekuensi spiritual yang sangat besar. Ketidaktahuan ini merusak setiap aspek kehidupan ruhani yang sehat serta hubungan yang hidup antara makhluk dan Sang Pencipta. Akidah, keyakinan, dan praktik keagamaan seseorang berisiko kehilangan nyawanya. Tanpa inti spiritual yang hidup, Islam mudah tereduksi menjadi sekadar identitas sosial atau, yang lebih buruk lagi, hanya menjadi mitos dan alat bagi kepentingan ideologis tertentu. Padahal, adalah pengetahuan dasar bagi setiap Muslim bahwa para nabi, para wali, dan para syuhada tidaklah mati, sebagaimana ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an berikut: 

“Dan jangan sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki” (QS. Ali Imran: 169)

Banyak hadis Nabi yang mendukung hal ini. Sebagai contoh, Nabi Muhammad bersabda: “Perbanyaklah bersalawat kepadaku pada hari Jumat, karena salawat kalian akan disampaikan kepadaku”. Para sahabat bertanya: “Bagaimana mungkin salawat kami sampai kepadamu sementara jasadmu telah hancur?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi”.

Anggapan keliru bahwa wafatnya Nabi bersifat permanen, dan dengan demikian akses kepadanya—setidaknya bagi Muslim modern—seolah-olah ikut mati bersama wafatnya, menjadikan Muslim seperti kaum mortalis. Dengan mengabaikan bagian kedua dari syahadat, Muslim dibiarkan tanpa perahu penyelamat dan harus berhadapan dengan Tuhan dan Nabi sebagai realitas yang jauh dan tidak dapat diakses. Padahal, hubungan yang hidup itu seharusnya tidak pernah pudar. Tanpa hubungan tersebut, apa gunanya mengklaim diri sebagai pemeluk agama? (Ketika agama, dalam makna aslinya, berasal dari re-ligare, yakni menyambung kembali, mengingat kembali apa yang telah dilupakan). 

Dalam sebuah esai tentang Neo-Sufisme dalam New Cambridge History of Islam, Bruce Lawrence mengemukakan bahwa pertanyaan paling penting yang membedakan antara Muslim Sufi dan non-Sufi adalah apakah Nabi Muhammad masih hidup atau telah mati. Lawrence menegaskan bahwa di setiap generasi, keyakinan bahwa Nabi itu hidup selalu ada, namun yang membedakan periode abad ke-16 hingga ke-19 adalah adanya kesadaran yang lebih eksplisit dan lebih terbuka di ruang publik mengenai Nabi sebagai “penghubung” yang hidup antara Tuhan dan umat manusia. Tawasul dengan Nabi tentu bukanlah gagasan baru; jejaknya dapat ditemukan dalam karya-karya para mistikus terdahulu seperti Ibn ‘Arabi, al-Suyuthi, dan lainnya. Namun, pada abad-abad berikutnya (terutama sejak abad ke-18), konsep ini, yang sebelumnya merupakan ajaran Islam yang mendasar, perlahan berubah menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh kalangan elit spiritual. Di sinilah letak tragedi Islam arus utama di era kontemporer: Islam menjadi kering dan kehilangan ruhnya karena hubungannya dengan “Al-Qur’an Berjalan” (Nabi Muhammad) tidak lagi bersifat hidup, sebagaimana hubungan para sahabat dengan beliau dulu, yang hati mereka mengalami transformasi hanya dengan berada di dekatnya.

Para sarjana berpendapat bahwa penekanan pada Nabi Muhammad sebagai penghubung yang hidup dalam bentuk-bentuk tasawuf belakangan merupakan respons terhadap berbagai tantangan yang muncul akibat tatanan politik baru. Dalam pandangan Lawrence, yang menjadi pendorong utama bagi berkembangnya gerakan-gerakan Sufi yang secara politik dan sosial semakin menguat—seperti penyebaran tarekat Muhammadiyah dari Asia Selatan hingga Afrika Barat pada abad ke-18 dan ke-19—bukanlah Wahabisme, melainkan kolonialisme. Teori Lawrence memang memang ada benarnya, tetapi ia tidak sepenuhnya mempertimbangkan kepentingan strategis kolonial dalam memutus keterkaitan antara Muslim yang aktif secara politik dan memiliki kehidupan spiritual yang kuat. Kelompok-kelompok ini dipandang sebagai ancaman karena mereka sering kali berada di garis depan perlawanan militer terhadap ekspansi Eropa. Contohnya dapat dilihat dalam perjuangan Emir Abdul Qadir al-Jaza’iri. Pada abad ke-20, rezim kolonial berupaya untuk membentuk citra kaum Sufi sebagai “sebuah sekte”, yakni sebagai darwis yang pasif, jinak, dan tidak memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Hal ini, pada akhirnya, mendorong para reformis Muslim modern untuk menerima narasi kolonial tersebut dan menyerang Sufisme sebagai suatu penyimpangan dari Islam.

Secara simbolis, wafatnya Nabi Muhammad masih dirayakan oleh para aktivis Islamofobia rasis hingga hari ini. Tanyakan kepada siapa pun di Palestina, khususnya di Yerusalem atau Hebron, dan mereka akan memberi tahu bahwa salah satu grafiti penghinaan yang paling umum ditemukan di lingkungan mayoritas Arab seperti Syekh Jarrah adalah מהמד מאת, yang dalam bahasa Arab terbaca “Muhammad maat” (Muhammad telah mati). Kalimat ini sering diteriakkan oleh massa Zionis yang meneror dan mengintimidasi penduduk asli Palestina. 

Para penentang Islam memahami bahwa Muhammad adalah pusat yang tak tergantikan bagi Muslim, dan inilah alasan mengapa mereka terus menyerangnya berulang kali, merayakan ideologi mereka yang keji, kosong secara moral, etika, dan spiritual. Namun, ironinya, menghina sesuatu yang sakral sebenarnya merupakan tanda dari kehancuran mereka sendiri. Lalu, bagaimana dengan Muslim? Perasaan terus-menerus sebagai orang asing di dunia yang penuh materialisme ini seharusnya menjadi tanda bagi Muslim, dan siapa pun yang tulus mencari transendensi, untuk menggali lebih dalam. Apakah mereka benar-benar mengenal Nabi mereka sebagai Penghubung yang Hidup? Ataukah mentalitas korban dan kepercayaan akan mortalitas Nabi telah menjadi agama mereka? Apakah mereka hanya berpura-pura mencintai Nabi Muhammad sebagai dalih atas kelemahan mereka—sebagai wujud keterkejutan dan kesedihan atas “kehilangan” Kekasih Allah, Makhluk Terbaik, dan Yang Paling Terpuji, padahal beliau tidak pernah hilang? Apakah mereka lupa akan perintah Ilahi untuk “mengetahui bahwa Rasulullah masih ada di tengah-tengah kalian” (QS. Al-Hujurat: 7).

—Tulisan ini pertama kali diterbitkan pada 3 April 2022 di Substack “Sermons at the Court”. Diterjemahkan oleh Lien Iffah Naf’atu Fina dengan bantuan mesin kecerdasan buatan.

Farah El-Sharif

Peneliti dan sejarawan pemikiran Islam modern dan kontemporer; PhD dari Departemen Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard, dengan fokus penelitian pada kesarjanaan Islam di Afrika Barat abad ke-19; MA dalam Studi Islam dari Graduate Theological Union, Berkeley dengan… More »
Back to top button