Sejarah yang Terjalin

Warisan kesalehan Sunni dan Syiah yang saling teranyam, ringkasan dari Sermons at the Court’s archive tentang etika Ahlul Bait dan keharusan eksistensial untuk menjaga persatuan.

(Masjid Sayyida Zainab, Kairo (1921). Kartu pos. Sumber: eBay)

“Dia telah menamai kalian sebagai Muslim”. — (QS. Al-Hajj: 78)

“Al-Qur’an adalah kitab yang ada di tangan kaum Muslimin, baik Syiah, Sunni, maupun lainnya. Tidak ada Al-Qur’an yang lain”. — Ja’far Fadlallah

“Keterikatan orang Mesir pada Ahlul Bait bersumber dari geografi mereka yang berpusat pada Sungai Nil; sebab peradaban sungai secara alami cenderung mendekat kepada mereka yang menyucikan manusia dari dosa dan keburukan”. — Sejarawan Mesir Jamal Hamdan

Setelah menyaksikan pembantaian saudaranya, Imam Husain, di tanah Karbala yang berlumuran darah, dan setelah menyampaikan khutbahnya yang mengguncang di hadapan istana Yazid di Damaskus, Sayyidah Zainab bint Ali—yang menjadi inspirasi bagi Substack ini—menemukan perlindungan di Mesir.

Ketika ia tiba di Negeri Sungai Nil, gubernur setempat keluar untuk menyambutnya bersama kerumunan besar di dekat wilayah Bilbays di gurun timur. Melihat banyaknya orang yang berkumpul, Sayyidah Zainab mendoakan mereka dengan berkata:

“Wahai penduduk Mesir, kalian telah menolong kami, semoga Allah menolong kalian. Kalian telah memberi kami tempat berlindung, semoga Allah memberi kalian perlindungan. Kalian telah membantu kami, semoga Allah membantu kalian. Dan semoga Dia menganugerahkan kepada kalian, dari setiap musibah jalan keluar, dan dari setiap kesulitan kelegaan”.

Di sanalah ia menemukan tempat yang aman setelah mengalami begitu banyak penganiayaan, dan sejak itu menjadi sosok legendaris dalam tradisi kesalehan masyarakat Mesir.

Hingga hari ini, di tengah masyarakat Mesir yang mayoritas Sunni, kecintaan kepada Ahlul Bait tetap mengalir kuat, meskipun sering kali bersifat pribadi dan tersembunyi dari sorotan negara yang penuh pengawasan. Cobalah berkunjung ke makam Imam Husain di Kairo, dan saksikan sendiri luapan kecintaan para pencari, para pecinta, dan para pengembara. Sayyidah Zainab masih dengan penuh kasih disebut sebagai al-Sayyidah, atau al-Thahirah (“Yang Suci”), dan Umm al-Yatāmā (“Ibu bagi anak-anak yatim”) karena kebijaksanaan, keutamaan, dan kemurahan hatinya.

Bahkan tokoh yang sangat populer di Mesir, Shaykh al-Sya‘rawi—yang video-video penjelasannya tentang Al-Qur’an dan hadis masih menjadi salah satu yang paling luas beredar di dunia berbahasa Arab—pernah menulis sebuah buku berjudul “Aku adalah Keturunan Ahlul Bait.” Dalam buku itu ia menegaskan nasabnya berdasarkan sebuah mimpi atau penglihatan yang ia alami bersama Sayyidah Zainab. Di dalamnya ia juga menulis tentang peristiwa Karbala, serta berbagai keturunan keluarga Nabi yang dimakamkan di Mesir, seperti Sayyidah Nafisah, yang pernah menjadi guru dan pembimbing spiritual bagi Imam al-Syafi‘i.

(Sebuah buku yang jarang diketahui dari seorang ulama Sunni, yang, barangkali, paling berpengaruh di dunia Arab abad ke-20, Syekh Sya‘rāwī, yang memuji Ahlul Bait dan keberkahan mereka bagi Islam di Mesir.)

Sebelum kategori “Sunni” dan “Syiah”, sebelum kitab-kitab akidah ditulis, sebelum mazhab-mazhab fikih dilembagakan, masyarakat Islam pada umumnya selalu hidup dengan sejarah yang saling terjalin dalam memuliakan keluarga Nabi dan para sahabatnya. Sebab itulah yang menyatukan mereka: mencintai apa yang dicintai Nabi ﷺ adalah inti dari iman. Cinta adalah hakikat sejati yang mengikat umat dari Kashmir hingga Kuala Lumpur. Bukan semata buku dan pengetahuan yang menopang tradisi Islam; yang selalu menghidupkannya adalah kesalehan, pengorbanan, dan ratapan yang benar-benar dihidupi—yang memberi Islam daya hidup yang meresap dalam keindahan beragam budaya Muslim di seluruh dunia.

Bukankah bom yang jatuh di Gaza, Yaman, Lebanon, atau Suriah, juga hujan asam di Iran, tidak peduli pada sekte, mazhab, atau akidah Anda—apakah Anda seorang Sufi atau Salafi, seorang Asy‘ari atau Maturidi?

Para syahid pertama dalam Islam, seperti Sayyidah Sumayah atau Yasir, bukanlah Sunni atau Syiah. Mereka tidak mengenal perbedaan berbagai perdebatan hukum atau sektarian. Mereka bahkan belum mengetahui secara rinci praktik-praktik ritual dasar Islam, namun kedudukan mereka lebih tinggi daripada bahkan para ulama paling berilmu pada masa kini. Mengapa? Karena mereka adalah orang-orang pertama yang menerima esensi Islam secara utuh, dan memberikan segalanya—jiwa, kata, dan tindakan—ketika taruhannya paling besar; mereka menyerahkan diri mereka sepenuhnya agar Islam, sebagai jalan cinta tauhid yang tulus, dapat bertahan.

Mereka bertindak sebagai saksi yang hidup, para syuhada, bukan sekadar penonton dari kejauhan, karena cinta yang sempurna kepada madrasah kenabian dalam Islam: sebuah jalan ketulusan, dibimbing oleh cinta yang diwujudkan dalam tindakan, dan berorientasi pada kebenaran serta keadilan, terlepas dari berhala-berhala perpecahan dan pertikaian yang tampak di permukaan.

Kesukuan atau ‘ashabiyah disebut sebagai sesuatu yang “busuk” oleh Nabi ﷺ. Sebab mereka yang menjadikan kesetiaan dan “isme” mereka sebagai berhala (Marxisme, Ikhwan al-Muslimin, nasionalisme, Syiah, atau apa pun) pada akhirnya akan menempatkan kepentingan-kepentingan itu di atas umat, sehingga secara batin menempatkan sekutu-sekutu di samping Tuhan dalam hati mereka.

Namun martabat dan kebebasan sejati bagi umat tidak akan datang dari mereka yang bersikeras terikat pada metodologi yang mereka bangun sendiri dan pada perhitungan ideologis yang kaku.

Kesetiaan dan pengabdian kepada umat adalah batu ujian yang paling hakiki.

Sebelum perpecahan kolonial dan arus puritan serta modernis menjadi cara dominan dalam mendekati Islam, madrasah cinta kenabian telah meresap dalam praktik keagamaan Muslim dari Afrika Barat hingga Asia Timur. Tanpa itu, sangat mudah bagi umat untuk terjerumus ke dalam perpecahan nasionalis atau sektarian yang melayani kepentingan diri sendiri; sebab tanpa cinta, Islam dapat dengan mudah berubah menjadi alat untuk kepentingan sempit.

Pada akhirnya, hanya mereka yang memiliki cinta yang tulus kepada seluruh umat inilah yang akan mampu bertahan menghadapi hari-hari penuh gejolak yang akan datang.

Sejak awal berdirinya, Sermons at the Court dengan bangga telah banyak membahas topik Ahlul Bait dan etika universal Karbala. Kini, ketika perang Israel melawan Iran dan Lebanon terjadi, tidak ada rasa puas diri (schadenfreude) bagi saya karena pentingnya menumbuhkan persatuan intra-Muslim terbukti benar.

Yang saya maksud bukanlah persatuan yang dangkal atau sekadar “mari berpegangan tangan”, tetapi persatuan yang lahir dari integritas, dari kajian yang cermat terhadap sejarah-sejarah yang berakar bersama, serta dari silsilah pengetahuan dan peribadatan yang saling bertaut.

Bagaimanapun, sejarah-sejarah ini memang saling terjalin dan bertaut.

Ingatlah: Mesir memiliki sejarah Syiah melalui Dinasti Fatimiyah.

Iran memiliki sejarah Sunni melalui Dinasti Samaniyah.

Dan jika kita melihat lebih dekat, kita dapat menemukan unsur “tasawuf” dalam karya Ibn Taymiyah, serta unsur “salafisme” dalam karya ‘Abdul Qadir al-Jilani.

Jika Anda seorang peneliti serius dalam sejarah intelektual, Anda juga akan menemukan jejak-jejak yang oleh sebagian orang disebut sebagai “rafidisme Syiah” pada para pendiri empat mazhab fikih. Misalnya Imam al-Syafi‘i yang pernah berkata:

“Wahai Ahlul Bait Rasulullah! Mencintai kalian telah diwajibkan atas kami oleh Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Cukuplah bagi kemuliaan kalian bahwa siapa pun yang tidak bershalawat kepada kalian dalam salatnya, maka salatnya tidak diterima”.

Demikian pula, seseorang dapat mempelajari kisah Karbala, atau fatwa Ali Khamenei yang melarang penghinaan terhadap para sahabat. Kita juga dapat menyaksikan realitas hidup dari koeksistensi bersama di tempat-tempat seperti Irak atau Lebanon pada hari ini.

Dalam terjemahannya yang akan datang atas ‘Aqidat al-‘Awam (“Akidah Orang Awam”) karya Syekh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki, sarjana Muslim kontemporer Suhaib Webb dengan sangat baik menunjukkan bahwa “tidak ada istilah yang telah merusak wacana Muslim di Barat sedalam dan sepecah istilah Ahl al-Sunnah wa-l-Jama‘ah. Di mimbar-mimbar, pamflet, dan ruang-ruang daring, istilah ini dipakai seolah-olah ia sendiri adalah wahyu: sebuah kata sandi surgawi menuju ortodoksi. Namun ironinya sangat dalam: sesuatu yang dahulu bersifat deskriptif kini berubah menjadi dekret normatif; sesuatu yang manusiawi telah disalahpahami sebagai sesuatu yang ilahi.”

Ia melanjutkan, “Allah tidak menurunkan istilah itu sebagai wahyu, Nabi tidak mengucapkannya, dan para generasi awal pun tidak menggunakannya sebagaimana ia banyak dipakai hari ini. Ia adalah istilah yang dirumuskan oleh manusia, dan dampaknya tidak pernah dimaksudkan untuk memiliki otoritas ilahi”.

Webb menjelaskan bagaimana para ahli fikih kontemporer, seperti ulama Mauritania Syekh Muhammad al-Hasan al-Daddu, menelusuri genealogi istilah Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaʿah melalui relasi antara bahasa dan kekuasaan.

Al-Daddu menjelaskan bahwa baik Al-Qur’an maupun riwayat sahih dari sabda Nabi tidak pernah menggunakan istilah gabungan Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaʿah:

السنةُ في اصطلاح أهل العقيدة تُطلَق على ما كان عليه رسول الله ﷺ وأصحابُه الكرام، وهي بهذا المعنى تُقابل البدعة

“Dalam terminologi para ulama akidah, al-Sunnah merujuk pada apa yang dijalankan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau yang mulia; dan dalam makna ini ia menjadi lawan dari bid‘ah.”

Dan mengenai kata al-Jamaʿah:

وكانت الجماعة تُطلَق على الكثرة العظمى من المسلمين المتمسكين بالسنة، المجتمعين على إمام واحد

Al-Jamaʿah dahulu merujuk pada mayoritas besar kaum Muslim yang berpegang pada Sunnah dan bersatu di bawah satu imam.”

Namun, ia mencatat bahwa politik segera mengubah teologi, dan ini adalah poin yang sangat penting:

وقد حاول الأمويون توظيف مصطلح الجماعة توظيفًا سياسيًا، فجعلوا مَن معهم داخل الجماعة، ومَن خالفهم خارجها

“Dinasti Umayyah berusaha memanfaatkan istilah al-Jamaʿah secara politis: mereka menjadikan orang-orang yang bersama mereka sebagai bagian dari ‘jamaah’, dan mereka yang menentang sebagai orang-orang di luar darinya.”

Inilah sebabnya mengapa penting mempelajari sejarah Islam awal, sebagaimana pernah saya tuliskan dalam tulisan sebelumnya tentang sejarah awal Islam yang saling terjalin, “Before Quietism: the Rebellious Roots of Sunni Orthodoxy”:

“Yang muncul dari kajian itu adalah sebuah sejarah yang terlupakan—atau lebih tepatnya sebuah kisah yang lebih disukai untuk tidak didengar—karena ia mengguncang sekat-sekat dan dikotomi rapi yang dibangun secara kolonial, tempat banyak Muslim modern bersembunyi sebagai pelipur bagi ketakutan dan kegelisahan mereka terhadap perbedaan internal umat dan perbedaan politik.

Namun bagi mereka yang berani keluar dari lubang-lubang ketakutan kekanak-kanakan dan ilusi yang meninabobokan, bagi mereka yang mempelajari sejarah dengan kejujuran dan kedewasaan, identitas keislaman mereka justru menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah. Sebab ketika pandangan dunia seseorang berakar pada kenyataan—bukan pada kebohongan yang manis atau kebenaran yang setengah matang—maka ia menjadi lebih jujur dan kokoh. Ia lebih berakar, dan karena itu lebih tenang serta lebih efektif dalam menghadapi pergulatan masa kini dan membayangkan masa depan.”

Mendekati tradisi intelektual Islam melalui lensa sejarah dan tradisi yang saling terjalin (braided traditions) merupakan salah satu mekanisme pertahanan paling penting terhadap strategi divide and conquer yang terus didorong oleh logika kolonial—strategi yang pada akhirnya tidak hanya bertujuan menghancurkan “Hamas” atau “para Ayatollah”, tetapi merusak seluruh dunia Islam.

Warisan yang saling terjalin ini menyentuh kita semua.

Mempelajari kisah Karbala dan evolusi kanon Sunni, misalnya, memiliki relevansi yang sangat besar bagi pembentukan negara-negara Arab pascakolonial. Sebab perpecahan hari ini tidak lagi sekadar antara Sunni dan Syiah, tetapi antara perlawanan dan kepatuhan, yang melampaui batas-batas sektarian. Bahkan sekarang para penghasut perang di Israel sudah mulai memperingatkan bahwa “Turki adalah Iran yang baru”. Semakin cepat persatuan tercapai, semakin kecil pula korban jiwa dari warga tak berdosa dalam jalur perang ekspansionis ini.

Seperti yang pernah saya tulis dalam sebuah tulisan pada Maret 2025 tentang sejarah Ahlul Bait yang terjalin dengan perlawanan Palestina, dalam tulisan berjudul “Reviving the Husseini Spirit”:

“Pengkhianatan semacam itu menjadi jauh lebih memalukan ketika dilakukan atas nama keluarga Nabi yang diberkahi. Hari ini, visi Lawrence of Arabia tentang Timur Tengah justru berkembang subur dalam bentuk disintegrasi, korupsi, dan normalisasi dengan para aktor paling berbahaya—para pewaris kekuasaan Imperium Inggris.

Semakin banyak saya mempelajari kehidupan dan etos Ahlul Bait itu sendiri, semakin besar pula kewaspadaan—bahkan kemarahan—saya terhadap setiap wacana yang menggunakan Islam—bahkan keluarga mulia Nabi—sebagai selubung untuk menutupi tirani.

Ingatlah etika sejati Ahlul Bait dalam sikap Imam Husain. Kesyahidan beliau sendiri telah diramalkan oleh Nabi ﷺ, yang bahkan meneteskan air mata atas nasib tragis cucunya yang gagah berani itu. Husain bukan sekadar “penghasut” yang mengobarkan perang melawan kekuatan tiran dari Dinasti Umayyah dan Yazid. Justru ia dipaksa untuk memberikan baiat buta kepada mereka, dan dengan demikian memberikan legitimasi—sesuatu yang sebagai penjaga nilai-nilai kenabian tidak mungkin ia terima.

Ia tidak memulai pemberontakan atau pertikaian. Justru Yazid-lah yang memaksanya untuk tunduk kepada kekuasaannya. Imam Husain menolak demi prinsip, dan dengan tegas berkata:

“Orang seperti aku tidak akan pernah tunduk kepada orang seperti engkau.”

Ini adalah persoalan tabiat. Persoalan hakikat. Persoalan menjaga hukum moral yang paling mendasar: para nabi—dan para pewaris spiritual mereka—tidak pernah tunduk kepada tirani. Sederhana dan jelas.

Sikap inilah—pengorbanan inilah—yang akhirnya membawa beliau kepada kesyahidan di tangan pasukan Yazid di Karbala. Ia juga dikenal pernah berkata:

“Kematian tidak lain adalah kemuliaan.

Sedangkan hidup bersama para tiran tidak lain adalah kehinaan.”

Semangat Ahlul Bait yang melawan tirani ini juga tampak pada saudari beliau yang pemberani, Singa Betina Ahlul Bait, Sayyida Zaynab—yang menjadi inspirasi bagi Substack ini—yang menolak menunjukkan kelemahan di istana Umayyah milik Yazid di Damaskus. Di sana ia menyampaikan kata-kata kebenaran di hadapan seorang tiran dengan kefasihan dan keanggunan yang luar biasa, dalam salah satu khutbah protes paling menggema dalam sejarah manusia.

Di manakah kita hari ini dibandingkan dengan teladan seperti itu? Ketika yang justru melimpah adalah tirani yang berpusat pada kepentingan diri di berbagai rezim di dunia Muslim yang hampir tak memiliki akuntabilitas? Ketika para ulama justru menunjukkan lebih banyak adab kepada para tiran daripada kepada Allah? Ketika kepedulian terhadap tempat-tempat suci kita begitu kecil, sementara darah ribuan orang beriman tertumpah secara keji dan tanpa kendali? Ketika kita bahkan telah menerima sistem yang rusak total ini sebagai sesuatu yang sakral, tak mungkin salah, dan suci?

Memiliki darah kenabian yang mengalir dalam tubuh seseorang bukanlah hak istimewa tanpa syarat, dan tidak otomatis menjadikan seseorang anggota Ahlul Bait. Untuk benar-benar termasuk dalam Ahlul Bait, seseorang harus menapaki jalan itu secara nyata—menunjukkannya dalam kata dan perbuatan. Ia adalah jalan pengabdian dan tanggung jawab, bukan jalan kekuasaan atau akses istimewa.

Ingatlah bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda tentang sahabat beliau yang tercinta, Salman al-Farisi: “Salman adalah bagian dari kami, dari Ahlul Bait.” Hal itu karena gagasan Salman untuk menggali parit dalam Perang Khandaq menjadi sebab kemenangan kaum Muslim. Nabi ﷺ menyebut Salman sebagai bagian dari keluarganya—meskipun ia tidak memiliki hubungan darah dengan beliau—sebagai pengingat bahwa yang paling penting adalah semangat Ahlul Bait, bukan sekadar garis keturunan.”

Dengan demikian, semangat Ahlul Bait adalah semangat Islam yang dijalani dalam tindakan nyata.

Ia adalah Islam kenabian. Karena itu, jika seseorang memilih untuk mengabaikannya, maka ia mengabaikannya dengan risiko bagi jiwanya sendiri.

Namun jika seseorang menyadari bahwa kategori-kategori yang kini kita kaku-kan—akibat dogmatisme reaktif atau rekayasa kolonial—pada hakikatnya hanyalah konstruksi, maka barulah mungkin kita mulai memulihkan kembali esensi sejati Islam: semangat persatuan yang dibangun di atas keadilan, pengorbanan, dan perlawanan terhadap penindasan.

Dengan bangkitnya kembali strategi perang divide and conquer yang kini menghancurkan komunitas-komunitas mayoritas Muslim, sementara al-Aqsa berada dalam ancaman kehancuran yang sangat serius, percakapan seperti ini tidak lagi sekadar pilihan. Ia menjadi kebutuhan eksistensial untuk mengambil langkah-langkah nyata dalam menutup jurang perpecahan.

Untuk bertobat dan pulih dari penyakit ‘ashabiyah (fanatisme kesukuan atau golongan), karena ia adalah sesuatu yang busuk.

Persatuan intra-Muslim bukanlah slogan kosong yang kekanak-kanakan, bukan pula kata-kata manis yang sekadar menenangkan perasaan. Ia adalah benteng penahan yang mencegah pertumpahan darah. Ia adalah jalan untuk menghidupkan kembali makna pembebasan yang sejati—apa artinya menjadi seorang Muslim, menubuhkan tauhid, melampaui kesetiaan sempit kelompok dan perhitungan kecil yang kekanak-kanakan.

Itulah yang diperlukan untuk meneguhkan perjanjian penyerahan diri kepada Yang Maha Esa: perjanjian integritas, ketulusan, kehormatan, keberanian, dan keadilan.

Apakah Anda merasakannya?

Saringan besar yang dimulai oleh genosida di Gaza masih terus memisahkan manusia ke dalam dua kubu: yang tulus dan yang berpura-pura. Mereka yang sungguh-sungguh memperjuangkan pembebasan umat, dan mereka yang tetap berpegang keras pada kesetiaan sempit kelompoknya.

Pertempuran ini telah mencapai puncaknya, dan pilihan tentang di sisi mana Anda berdiri pada akhirnya adalah pilihan Anda sendiri.

Jika tidak, ingatlah siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari fanatisme golongan yang busuk itu.

(sumber: Anadolu)

—Tulisan ini pertama kali diterbitkan pada 13 Maret 2026 di Substack “Sermons at the Court”. Diterjemahkan oleh Lien Iffah Naf’atu Fina dengan bantuan mesin kecerdasan buatan.

Farah El-Sharif

Peneliti dan sejarawan pemikiran Islam modern dan kontemporer; PhD dari Departemen Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard, dengan fokus penelitian pada kesarjanaan Islam di Afrika Barat abad ke-19; MA dalam Studi Islam dari Graduate Theological Union, Berkeley dengan… More »
Back to top button