Wali dan Pedang: Bagaimana Para Ulama Sufi Abad ke-19 Melawan Kolonialisme dan Represi Negara

Cover image: Public domain, via Wikimedia Commons.

“Perang Melawan Teror”—Retorika semacam itu tidak selalu ditujukan kepada jihadis Salafi. Dahulu, sasarannya adalah Muslim Sufi. Sulit untuk percaya bahwa tasawuf, yang kini dikaitkan dengan quietisme politik dan pasifisme yang jinak, pernah dianggap sebagai inti dari “bahaya Islam” pada era kolonial.

Banyak, jika tidak sebagian besar, perjuangan militer modern di dunia Islam dapat ditelusuri kembali ke seorang pemimpin atau tarekat Sufi. Menurut teolog Paul Heck, “Jaringan tasawuf (thuruq, tunggal: thariqah) memimpin perlawanan terhadap kekuatan kolonial Eropa pada abad kesembilan belas, misalnya di Afrika Utara melawan Prancis dan di Kaukasus Utara melawan Rusia. Beberapa jaringan juga melawan negara-negara pascakolonial yang secara agresif berupaya mensekularisasi masyarakat lokal, misalnya pada tahun-tahun awal Republik Turki dan di Suriah sebelum 1982” [1]. Sedikit yang mengetahui bahwa dalam pendirian Turki modern, kelompok-kelompok Naqsyabandiyah dengan gigih menentang kebijakan sekularisasi agresif dalam sebuah pemberontakan yang dengan cepat dihancurkan oleh tentara Atatürk dalam waktu dua bulan.

Tentu saja, pada masa para pejuang Sufi, label “Sufi” sebenarnya kurang tepat. Dalam era prakolonial, tasawuf hanyalah bentuk normatif dari keyakinan dan praktik Islam arus utama. Seperti yang ditulis oleh cendekiawan terkemuka Hamid Algar, “dalam pandangan para pelakunya, tasawuf sejajar dengan Islam itu sendiri” [2]. Sebagaimana seorang Muslim prakolonial mengikuti mazhab fikih atau mazhab teologi (akidah), adalah praktik umum untuk juga mengikuti sanad penyucian spiritual (tazkiyah). Oleh karena itu, para pejuang Sufi di masa lalu tidak melihat diri mereka sebagai apa pun selain Muslim biasa.

Pemisahan kategoris tasawuf dari inti Islam memiliki tujuan strategis. Kampanye keras yang mengkritik tasawuf pertama kali muncul dalam arsip kolonial sebelum kemudian muncul dalam tulisan-tulisan Muslim anti-Sufi. Karena merasa terancam oleh kekuatan tasawuf, otoritas kolonial menggambarkan Sufi sebagai “sekte mistik”—sebuah penyimpangan dalam Islam. Hal ini, pada gilirannya, memperkuat kelompok-kelompok anti-Sufi seperti Wahabi dan Salafi serta menormalkan retorika mereka. Sejak awal abad kedua puluh, bentuk Islam yang telah mengalami kehancuran spiritual menjadi ekspresi yang lebih luas, sementara dunia tasawuf tersingkir ke dalam keterasingan yang pasif. Masa lalu kolektif perlawanan Muslim pun terdistorsi, terhapus, dan akhirnya dilupakan.

Denyut politik tasawuf melemah ketika negara-bangsa sekuler abad kedua puluh secara aktif membatasi dan menentukan bentuk ekspresi keagamaan, serta jenis “Islam” mana yang dianggap dapat diterima. Hal ini menyebabkan terbentuknya kelas ulama Sunni yang tunduk pada negara, sementara Sufi disingkirkan entah sebagai sesat atau quietist. Dengan membingkai tasawuf sebagai Islam yang “baik” dan semua ekspresi lainnya sebagai Islam yang “buruk”, perpecahan internal di kalangan Muslim semakin mengakar. Inilah salah satu faktor yang membuat manifestasi tasawuf di era kontemporer tampak lemah, dengan sikap pasrah terhadap status quo. Label “Sufi” kini lebih sering membangkitkan gambaran darwis yang menari, puisi Rumi, dan para zahid yang jinak, jarang sekali dikaitkan dengan perjuangan bersenjata. Spiritualitas pun dianggap hampir sebagai antitesis dari kekerasan.

Pandangan ini bertolak belakang dengan budaya populer Amerika, yang sarat dengan asosiasi positif antara spiritualitas dan pertarungan. Pikirkan saja Dune karya Herbert, para master samurai yang melompat di udara, atau Ksatria Jedi. Tidak mengherankan bahwa dalam proses riset untuk Star Wars, George Lucas berkonsultasi dengan sebuah tarekat di California, yang kemudian memengaruhinya untuk memasukkan tema-tema Islam dalam saga epiknya. “The Force”, yang melambangkan kekuatan tunggal, meliputi, dan menyeluruh dari Tuhan, atau Yoda sebagai seorang Syekh Sufi yang bijak, jelas mengandung simbolisme Islam. Namun, terlepas dari apropriasi ini, yang bisa dibilang positif, asosiasi antara spiritualitas dan perjuangan melawan ketidakadilan jarang sekali diterapkan pada Muslim sendiri. Perjuangan mereka jarang dianggap sah atau legitim. 

Meskipun hari ini tak terlihat, sejarah perlawanan Sufi yang kaya berbisik di balik perjuangan kontemporer melawan represi negara. Pertimbangkan kasus Uighur. Penahanan dan penindasan yang mereka alami di tangan Partai Komunis Tiongkok memiliki akar sejarah yang jauh, hingga Dinasti Qing pada abad kesembilan belas, ketika Turkestan Timur diperintah oleh para Khoja—keturunan Ahmad Kasani (w. 1542), seorang guru Sufi Naqsyabandiyah ternama dari Asia Tengah. Kita mengetahui sedikit sekali tentang tokoh-tokoh seperti Khoja Wali Khan dari Kokand, yang setelah melaksanakan salat tarawih pada Ramadan 1857, menyerang garnisun Tiongkok dan membunuh komandannya. Meskipun Wali Khan dikenal kejam dan masa kekuasaannya singkat, Partai Komunis Tiongkok bukanlah pihak yang bodoh atau lupa akan sejarah perlawanan Sufi terhadap totalitarianisme Tiongkok. Sebaliknya, hanya sedikit Muslim saat ini yang memiliki pengetahuan tentang sejarah ini.

Dua dekade sebelum pemberontakan Wali Khan, seorang pemimpin Sufi Naqsyabandiyah yang tangguh telah memimpin perlawanan Kaukasus terhadap Kekaisaran Rusia. Imam Syamil (w. 1871) dikenal karena karismanya dan komitmennya yang tak tergoyahkan dalam menegakkan syariat di lingkungan yang penuh permusuhan. Namun, yang lebih penting, ia berhasil menyatukan berbagai kelompok Muslim, seperti orang-orang Dagestan dan Chechnya, dalam perlawanan terhadap ambisi imperial Rusia dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Perang Kaukasus. Hingga hari ini, Imam Syamil dihormati oleh diaspora Kaukasus di seluruh dunia dan bahkan menginspirasi perlawanan diam-diam kelompok-kelompok Sufi bawah tanah di Uni Soviet.

Selama ibadah haji tahun 1825, Imam Syamil bertemu, dan mungkin menginspirasi, seorang pemimpin muda lain yang ditakdirkan untuk menjalani perjuangan bersenjata: Emir Abdul Qadir al-Jaza’iri (w. 1883). Keduanya bertukar strategi dalam menghadapi ancaman asing. Lima tahun kemudian, Prancis menginvasi Aljazair, dan pada usia yang masih belia, 24 tahun, Abdul Qadir mendapati dirinya berada di garis depan perlawanan Aljazair terhadap kolonisasi Prancis. Sebagai perwakilan tarekat Qadiriyah, yang silsilahnya merujuk pada Syekh Abdul Qadir al-Jilani dari abad ke-12, sekaligus sebagai keturunan Nabi Muhammad, Abdul Qadir mampu menyatukan seluruh Aljazair untuk bangkit dan mengangkat senjata melawan Prancis.

Perlawanan ini tidak hanya dipimpin oleh laki-laki: perempuan Sufi seperti Lalla Fatma N’Soumer (w. 1863) memimpin beberapa pertempuran melawan Prancis. Fatma N’Soumer ditangkap oleh pasukan Prancis dan meninggal dalam tahanan enam tahun kemudian. Marah atas perlawanan Aljazair yang terus berlanjut, dipimpin oleh Sufi laki-laki dan perempuan yang karismatik, Jenderal Prancis Bugeaud mengancam dengan lantang: “Aku akan memasuki pegunungan kalian, aku akan membakar desa-desa dan hasil panen kalian, aku akan menebang pohon-pohon buah kalian”.

Penjajah Prancis juga menghadapi perlawanan Sufi di Afrika Barat. Di wilayah yang kini dikenal sebagai Senegal, Syekh Umar Futhi Tal menghabiskan 55 tahun mengajar dan mendirikan komunitas bagi tarekat Tijaniyah sebelum akhirnya terseret ke dalam perlawanan militer akibat ekspansi kolonial Prancis. Konon, kekuatan spiritualnya melalui kewalian begitu besar sehingga ia mampu menghancurkan musuh hanya dengan tatapan mematikan. Sesuai dengan reputasinya, wirid Tijaniyah favoritnya diberi nama hizb al-saif, wirid pedang, dan karya monumentalnya berjudul Tombak-Tombak Persekutuan Yang Maha Pengasih Melawan Tombak-Tombak Persekutuan Setan yang Terlaknat. Meskipun judulnya terdengar seperti buku panduan militer, teks ini sebenarnya adalah kumpulan ajaran etika Sufi tentang pembentukan karakter yang baik dan keharusan mengenal Tuhan (makrifat). Bagi Tal, persenjataan figuratif memiliki makna metafisik yang jauh lebih besar dibandingkan senjata fisik yang dimiliki musuh-musuhnya di dunia. Kekuatan para pejuang Sufi seperti Tal berakar pada kepercayaan yang tak tergoyahkan kepada Tuhan sebagai Sang Pemenang (al-Ghalib). Dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan berfirman: “Barang siapa memusuhi seorang wali-Ku, maka Aku nyatakan perang terhadapnya”.

Meskipun menghadapi kebrutalan penjajah Eropa, para Sufi tidak goyah dalam etos perjuangan mereka. Pada pergantian abad ke-20, perlawanan lain di Afrika Utara muncul sebagai tanggapan terhadap kolonisasi Italia di Libya. Tarekat Sanusiyah, yang dipimpin oleh Syekh Umar al-Mukhtar, dijuluki “Singa Padang Pasir”, mengorganisir dan memimpin perlawanan Libya terhadap kolonialisme Italia selama hampir dua dekade. Berbeda dengan kampanye brutal Italia yang tidak memberi ampun kepada para tawanan, Umar al-Mukhtar berpegang teguh pada prinsip hukum Islam yang melarang pembunuhan terhadap tahanan perang. Ketika para pengikutnya bertanya mengapa ia tidak membunuh para tawanan Italia, ia menjawab: “Mereka bukan guru kita”. Namun, sikap moralnya tidak dibalas dengan keadilan. Italia akhirnya menangkap Umar al-Mukhtar dan menggantungnya di depan umum pada tahun 1931.

Bagi banyak dari mereka, komitmen terhadap pencarian ilmu, mengingat Tuhan (zikir), dan membangun komunitas lebih diutamakan daripada kehidupan di medan perang. Namun, peperangan dipaksakan kepada mereka, dan mereka memilih untuk menjalani “jihad kecil” dengan risiko besar bagi diri mereka sendiri. Ambil contoh Syekh Izzuddin al-Qassam (w. 1935) dari Suriah, yang meninggalkan zawiyah di tanah kelahirannya demi membela Libya dari invasi Italia. Ia kemudian melanjutkan perjuangannya dengan memimpin perlawanan bersenjata di Palestina, tempat ia akhirnya menetap dan mengadakan pertemuan maulid secara rutin di Haifa. Komitmen para ulama ini terhadap ajaran Islam membentuk pandangan mereka tentang kehidupan sebagai ujian dan cobaan, mencerminkan perjalanan para nabi dan keluarga Nabi Muhammad. Mereka, yang dipimpin oleh Imam Husain, juga menghadapi kekerasan yang tak terbayangkan pada masa-masa awal Islam.

Ada juga inspirasi lain. Para zahid seperti Ibrahim bin Adham (w. 778) dan Abdullah bin al-Mubarak (w. 797) “menjadi model utama dalam menggambarkan Sufi sebagai mujahid yang berani”, menurut Harry Neale, penulis buku tentang para wali-pejuang Sufi awal. Dengan meneladani figur-figur ini, para pejuang Muslim pada abad kesembilan belas memahami bahwa seberat apa pun represi di bawah kekuasaan kolonial, kezaliman tidak pernah benar-benar menang. Keyakinan ini menggerakkan pandangan mereka terhadap ketidakadilan dan menjadi bahan bakar dalam perlawanan mereka terhadap penindasan.

Gerakan anti-kolonial Sufi juga marak di Asia Selatan pada abad kesembilan belas. Tokoh-tokoh seperti Fazle Haq Khairabadi (w. 1861) mengeluarkan fatwa yang menyatakan jihad melawan Inggris pada tahun 1857, sementara Titu Mir (w. 1831), seorang ahli senam dan gulat, melatih sesama bangsanya di Bangladesh untuk melawan Inggris dengan lathi (tongkat bambu). Dipengaruhi oleh retorika jihad Syed Ahmed Barelvi, Titu Mir dikenal karena merekrut ribuan pekerja tani sebagai pejuang dan membangun benteng bambu besar untuk menahan ekspansi Inggris. Meskipun perlawanan mereka gigih, benteng sederhana itu akhirnya runtuh di hadapan meriam Inggris, dan Titu Mir bersama ratusan pengikutnya tewas ditikam bayonet. Namun, para wali, jaringan Sufi, dan makam-makam suci tetap menjadi ancaman bagi dominasi imperial Inggris. Tasawuf memiliki kemampuan untuk merangkul berbagai lapisan masyarakat Asia Selatan, sehingga menantang sistem kategorisasi kolonial yang didasarkan pada garis agama, etnis-linguistik, dan budaya.

Namun, perlawanan berprinsip di bawah panji tasawuf tidak selalu berujung pada kekerasan. Faktanya, pembelaan diri secara fisik dianggap sebagai “jihad kecil”, dibandingkan dengan jihad melawan hawa nafsu serta jihad melalui pena dan lisan. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda bahwa “jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata kebenaran kepada penguasa yang zalim”. Namun, jauh dari ideal, banyak tokoh Sufi ikonik masa kini justru melayani para tiran di Timur Tengah dan tidak merasa keberatan digunakan sebagai alat kekuatan lunak oleh pemerintah Barat dan sekutu mereka.

Bagi sebagian besar Sufi pejuang, pertempuran mereka tak kasatmata. Salah satu contoh terbaik dari hal ini adalah Syekh Ahmadou Bamba Mbacke (w. 1927), yang membuat pasukan kolonial Prancis di Senegal gentar tanpa pernah menumpahkan setetes darah pun. Ia mendirikan tarekat Muridiyah, salah satu tarekat Sufi terbesar di Senegal, dan memimpin perlawanan non-kekerasan terhadap kolonialisme, meskipun menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pengasingan dan tahanan rumah. Sebagai seorang ulama yang sangat produktif, ia dikenal karena menulis karya dan puisi yang jumlahnya disebut mencapai “tujuh ton”. Dalam sebuah puisi terkenalnya dalam bahasa Arab, ia menulis:

“Kalian mengasingkanku, menuduhku berjihad […] Baiklah, kata-kata kalian tentangku benar […] Sebab, demi Allah Yang Mahaagung, aku memang sedang berjuang.”

Bagi Bamba dan para Sufi pejuang lainnya, medan pertempuran yang paling berat terletak dalam jiwa manusia sendiri.

Namun, mereka juga memahami bahwa jika perjuangan batin itu tidak mewujud dalam perlawanan nyata terhadap kezaliman duniawi, maka itu adalah bentuk kemunafikan. Sejarah mencatat banyak kisah para pejuang Muslim yang berprinsip, yang tindakan mereka lahir dari keyakinan moral yang mendalam. Melalui wahyu dan makrifat (pengenalan akan Tuhan), mereka memahami bahwa para Fir‘aun dan Yazid dalam sejarah adalah arketipe yang bersifat abadi dan berulang, sebagaimana janji al-Qur’an: bahwa Tuhan dapat melipatgandakan yang sedikit, menguatkan yang lemah, dan menganugerahkan kemenangan kepada yang tertindas. 

Kelompok Sufi kontemporer sebagian besar telah memutus kesadaran mereka dari sejarah ini, padahal sejarah ini menjadi penawar kuat bagi Islamofobia maupun pandangan Muslim terhadap pencarian keadilan dalam Islam. Bagi para pejuang Sufi yang bijak ini, komitmen mereka terhadap perlawanan yang berprinsip bukanlah sesuatu yang terpisah dari tasawuf, melainkan justru bersumber darinya.

—Tulisan ini pertama kali diterbitkan pada 31 Januari 2023 di Website “Maydan”. Diterjemahkan oleh Lien Iffah Naf’atu Fina dengan bantuan mesin kecerdasan buatan.

[1] Paul Heck. “The politics of Sufism: Is there one?” dalam C. Raudvere & L. Stenberg (ed.). Sufism Today: Heritage and Tradition in the Global Community (hlm. 13–30). London: I.B. Tauris, 2010.

[2] Hamid Algar. “A Brief History of the Naqshbandi Order” dalam Marc Gaborieau, Alexandre Popovic, and Thierry Zarcone (ed.), Naqshbandis: Cheminements et situation actuelle d’un ordre mystique musulman. Istanbul and Paris: Editions Isis, 1990.

Farah El-Sharif

Peneliti dan sejarawan pemikiran Islam modern dan kontemporer; PhD dari Departemen Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard, dengan fokus penelitian pada kesarjanaan Islam di Afrika Barat abad ke-19; MA dalam Studi Islam dari Graduate Theological Union, Berkeley dengan… More »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button